Connect with us

Hi, what are you looking for?

Info SosialInfo Sosial

Opini

SPPG Jangan Singkirkan S.Pd, MBG Tak Boleh Menjatuhkan M.Pd

SPPG Jangan Singkirkan S.Pd, MBG Tak Boleh Menjatuhkan M.Pd
Program Besar Jangan Sampai Mengerdilkan Profesi Besar

Oleh: Zul (Wartawan Media Infososial)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah ide besar. Niatnya mulia yaitu memperbaiki gizi, menekan stunting, dan membangun generasi unggul. Tapi seperti banyak kebijakan ambisius di negeri ini, persoalannya bukan pada niat melainkan pada cara menjalankannya.

Di lapangan, mulai muncul kegelisahan yang tidak bisa dianggap sepele. apakah MBG melalui skema SPPG sedang diam-diam menggeser peran tenaga pendidik?

Ini bukan sekadar isu teknis. Ini soal martabat profesi. Ketika guru digeser dari rumahnya sendiri.

Sekolah bukan sekadar tempat distribusi makanan. Sekolah adalah ruang intelektual, ruang pembentukan karakter, ruang di mana S.Pd dan M.Pd mengabdikan keahliannya.

Namun, jika SPPG masuk tanpa desain yang matang, sekolah bisa berubah fungsi dari pusat pendidikan menjadi sekadar titik logistik program negara.

Lebih berbahaya lagi. jika, Guru tidak dilibatkan secara substantif. Peran pendidikan digantikan pendekatan teknokratis.

Lulusan non-pendidikan justru lebih dominan di ruang sekolah. Maka yang terjadi bukan kolaborasi, tapi disrupsi diam-diam terhadap profesi guru.

S.Pd dan M.Pd bukan pelengkap kebijakan. Ada kesalahan cara pandang yang harus diluruskan. guru bukan “aktor tambahan” dalam program pemerintah.

S.Pd adalah ujung tombak pembelajaran. M.Pd adalah perancang sistem dan kualitas pendidikan.

Jika mereka hanya dijadikan pelengkap administratif dalam MBG, maka negara sedang merendahkan investasi panjang dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Ironisnya, program yang katanya ingin meningkatkan kualitas SDM justru berpotensi melemahkan aktor utama pembentuk SDM.

Masalah utamanya, kebijakan yang tidak terintegrasi. Kegaduhan ini muncul karena satu hal klasik yaitu kebijakan berjalan sektoral, tidak terintegrasi.

MBG digerakkan sebagai program gizi.
Pendidikan berjalan di jalurnya sendiri.

Tanpa jembatan yang jelas, benturan itu pasti terjadi dan seperti biasa, yang paling terdampak adalah pelaku di lapangan yaitu guru.

Solusi bukan menolak, tapi meluruskan arah. Kita tidak sedang menolak MBG. Yang dituntut adalah meluruskan arah agar tidak salah sasaran.

Kembalikan sekolah sebagai otoritas pendidikan. SPPG tidak boleh mengambil alih ruang yang menjadi domain guru.
Sekolah harus tetap dikendalikan oleh sistem pendidikan, bukan program tambahan.

Libatkan guru secara substantif, bukan simbolik. Guru harus punya peran nyata. Edukasi gizi dalam pembelajaran.

Pengawasan program di sekolah. Integrasi nilai kesehatan dalam kurikulum bukan sekadar tanda tangan laporan.

Tempatkan M.Pd di level strategis. Jika pemerintah serius, maka libatkan M.Pd dalam desain kebijakan. Jadikan mereka evaluator program MBG di sektor pendidikan. Bukan hanya operator teknis di lapangan.

Pisahkan tegas fungsi gizi dan fungsi pendidikan. Bangun integrasi, bukan dominasi.

Jangan campurkan antara tenaga gizi  urus nutrisi dengan tenaga pendidik, Guru jelas urus pembelajaran. Kolaborasi? Ya. Tukar peran? Tidak.

MBG harus masuk ke sistem pendidikan sebagai pendukung, bukan pengendali. Masuk melalui seperti UKS, Kurikulum kesehatan, Program karakter. Dengan begitu guru tetap menjadi pusat.

Jangan sampai program baik melahirkan masalah baru.

Sejarah kebijakan publik di Indonesia penuh dengan program bagus yang gagal di implementasi.

Masalahnya selalu sama yaitu tidak peka terhadap ekosistem yang sudah ada.

Jika MBG dijalankan tanpa menghormati profesi guru, maka kita sedang menciptakan paradoks.

ingin mencetak generasi unggul, tapi melemahkan pendidiknya.

Pada akhirnya, ini soal keberpihakan.

Apakah negara ingin memperkuat guru sebagai pilar utama pendidikan atau membiarkan mereka perlahan tersingkir oleh program-program baru?.

MBG bisa jadi lompatan besar. Tapi tanpa kehati-hatian, ia juga bisa jadi langkah mundur.

Jangan sampai program gizi yang mulia justru menggerus martabat pendidikan.

Karena bangsa ini tidak hanya butuh anak yang kenyang tapi juga anak yang terdidik, dan itu hanya bisa lahir dari guru yang dihargai. (*)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

You May Also Like

Info Daerah

Daihatsu Terios pertama kali terjun ke pasar Tanah Air 2006 silam. Setelah berumur 10 tahun lebih, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sadar kalau persaingan...

Berita Utama

INFO SOSIAL, LAMPUNG TENGAH —Penyelenggaran penerimaan peserta didik baru atau PPDB yang dinilai rawan penyelewengan terus disorot. Selain soal kecurangan data kependudukan untuk diterima...

Video

Terjadi Kebakaran Hebat di Pasar Krui Tanggamus Post Views: 1,718

Info Daerah

Selain mobil low cost green car, masyarakat Indonesia kini disajikan beragam model mobil perkotaan. Dari sisi harga, city car umumnya dibanderol lebih mahal daripada...